Preservasi Sastra Bali, Yayasan Puri Kauhan Ubud Luncurkan 3 Buku Sastra Saraswati Sewana

  • Whatsapp
Ilustrasi Pura di Bali. [Alexandr Podvalny/Pexels]
Ilustrasi Pura di Bali. [Alexandr Podvalny/Pexels]

Preservasi kreasi sastra menjadi satu diantara cara jaga kelestarian budaya nenek moyang.

Berikut sebagai argumen Yayasan Puri Kauhan Ubud di Bali mengeluarkan tiga bukus “Sastra Saraswati Sewana”, yang disebut kelompok sastra Bali classic dan kekinian.

Read More

Berdasar tayangan jurnalis yang diterima di Jakarta, Kamis (21/10/2021), diterangkan acara penyeluncuran buku yang dikerjakan pas di hari spesial umat Hindu yaitu Buda Wage Warigadian nedeng Purnama Sasih Kalima, 20 Oktober 2021 ini, berada di Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar.

Buku pertama, “Sastra Saraswati Sewana, Pemarisuddha Gering Agung”, berisi beberapa karya dipilih dan kreasi nominasi beberapa peserta Gelaran Kreativitas Sastra Saraswati Sewana.

Baca : 35 Tahun di Pasar Seni Legian, Jero Pipit Kangen Bule yang Dapat Berbelanja Juta-an Rupiah

Buku ke-2 , bertema “Mulat Sarira untuk Bali Bangun, Pabligbagan Di Periode Wabah” berisi catatan Pabligbagan Virtual (dialog Virtual), yang diadakan Yayasan Puri Kauhan Ubud sepanjang wabah.

Buku ke-3 , dengan judul “Mai Mabasa Bali”, berisi beberapa karya Juara Lomba Kartun Strip Mai Mabasa Bali. Mai Mabasa Bali (Silahkan Memakai Bahasa Bali), sebagai moment Yayasan Puri Kauhan Ubud yang dipegang Koordinator Staff Khusus Presiden Ari Dwipayana untuk mempropagandakan pemakaian bahasa Bali ke khalayak luas.

Acara penyeluncuran buku ini didatangi beragam kelompok, dimulai dari Staff Khusus Presiden Sektor Kebudayaan Sukardi Rinakit, Wakil Gubernur Bali, Kepala Perwakilan Bank Indonesia Denpasar, Beberapa Rektor Perguruan Tinggi se- Bali, Lupasir Puri dan Grya, Budayawan, sampai kepala lingkungan dan bendesa tradisi se-kelurahan Ubud, Gianyar.

Rektor ISI Denpasar Prof. Dr. I Wayan Kun Adnyana sampaikan jika acara ini sebagai pergerakan kesadaran untuk kembalikan sastra sebagai Ibu sekalian “ulu” prinsip laris sehari-harinya dalam mengatur warga lebih memajukan bangsa.

Aktivitas Sastra Saraswati Sewana ini menurut dia, menjadi contoh dan tauladan untuk kembalikan bagaimana kutub khayalan kita, dapat pergi dari kekayaan khasanah susastra Nusantara.

Rektor ISI Denpasar meneruskan jika acara ini bisa mencerminkan, menyaksikan kembali tapak jejak keluhuran dan kebijaksaan tetua kita di periode kemarin.
“Bagaimana mereka hidup, jaga serasi antara manusia, dengan alam, dan terhubungnya jalinan yang kohesif antara yang riil dan yang tidak riil,” papar I Wayan menerangkan.

Koordinator Staff Khusus Presiden AAGN Ari Dwipayana sebagai Ketua Yayasan Puri Kauhan Ubud sampaikan jika penyeluncuran buku yang pas dikerjakan pada Buda nemu purnama yang disebutkan dengan Buda Kembang ini diartikan sebagai peluang emas, saat yang benar-benar pas untuk mengetahui ikatan tali rasa-kalbu-hati, di antara pertiwi-tanah-tubuh dan candra/bulan.

Ari mengutamakan jika warga Bali kurang cukup cuman rayakan budaya literatur, tapi harus diteruskan dengan Sastra Paraga, membadankan sastra dalam pemikiran, kalimat, dan perlakuan.

Dari Sastra Paraga berikut selanjutnya lahir Sastra Dresta. Sastra Dresta ialah sastra yang sudah jadi langkah pandang dan perlakuan kelompok untuk pecahkan beragam masalah kalut dan ketegangan hidup.

Baca : 35 Tahun di Pasar Seni Legian, Jero Pipit Kangen Bule yang Dapat Berbelanja Juta-an Rupiah

Datang memberi animo atas penyeluncuran buku ini, tiga figur yang paling intensif memperhatikan perubahan budaya Bali yakni, Jean Couteau, Profesor Adrian Vickers dari Kampus Sydney dan Dr Graeme Macrae, lecturer dari Massey University.

Ke-3 figur itu memberi animo atas upaya-upaya yang sudah dilakukan Yayasan Puri Kauhan Ubud, dalam menghidupkan kesayangan warga pada sastra dan aksara Bali. Sebuah usaha, yang diharap bisa memberikan inspirasi warga Bali yang lain, untuk lakukan usaha bersama yang lebih nyata dan efisien.

Acara yang diadakan secara hybrid itu, mendatangkan dongeng mulat sarira yang ditampilkan oleh Rukardi Rinakit dan Ayu Lakmi, dan ditutup dengan Pemutaran Teater Seni Sekala Niskala, kreasi sutradara muda berpotensi Kamila Andiri dan koreografer Ida Ayu Wayan Arya Satyani.

Source:suara.com

Related posts

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *